Labels

April 01, 2014

Aku dan Dia

Ini hari pertama bulan April. Saya punya ekspektasi lebih pada bulan ini. Semoga tidak sesuram bulan lalu. April bulan penuh harapan, semoga harapan-harapan yang mengawang diangkasa segera dikabulkan. Kesannya memaksa ya, tapi saya memang dalam keadaan emergency.

Saya bersyukur atas hidup saya. Meskipun memang tidak se-fairy tale-an ala hidup Yuan Xiang Qin, tapi saya yakin hidup saya juga istimewa. Saya punya cita-cita, yang meskipun belum saya temukan tapi saya yakin cita-cita saya indah. Saya orang baik, hati saya sebenarnya lembut, meskipun secara penampilan saya terkesan antagonis. Tuhan menyayangi saya karena saya orang baik. Ngomongin beginian saya berasa kayak sedang promo nyari calon suami. Apakah saya akan menikah nanti?, saya tidak yakin. Karena selama ini saya belum pernah jatuh cinta, dan standardisasi romance saya terlalu tinggi, berkat puluhan drama yang telah saya tonton.

Sebagaimana layaknya manusia, saya memiliki sisi gelap. Kadang saya terlalu keras, dan saya tak terkendali. Saya tak bisa mengendalikan emosi saya. Saya sering menyesalinya. Terlebih tentang sikap saya ke Ibu saya. Bagaimana bisa manusia berubah begitu drastis?. Dulu saya menomor satukan ibu saya. Saya tak bisa hidup tanpa dia. Maka dari itu saya gak pernah ditinggal kemana-mana. Saya merasa gak bisa bernafas kalau gak ada ibu. Aku rasa kayak gitulah cinta, menurut drama yang telah aku tonton.

Aku berubah kemudian menjadi biasa aja meskipun gak ada ibu disekitarku. Aku jadi punya dunia sendiri. Tapi ibu rupanya waktu itu masih belum sepenuhnya bisa tanpa aku. Cinta memang begitu, kadang berat sebelah. Kalau di drama romance, kejadian begini pasti membuat hubungan gak stabil terus putus cinta. Tapi hubungan ibu dan anak beda, kita gak terputuskan, seberapapun kejamnya salah satu pihak.

Perubahan itu kemudian menjadi semakin ekstrem dimana kemudian aku malah merasa gak nyaman berada disekitar ibu. Aku gak tahu kenapa. Aku pengen konsultasi kejiwaan, atau apalah. Ini fenomena yang tidak aku ketahui alasannya. Aku tidak suka dia, aku tidak nyaman berada disekitarnya, dan kemudian aku bersikap yang kurang baik padanya. Aku sampai di level anak durhaka. Aku masih belum tahu mengapa. Aku gak pernah merasa rindu meski berjauhan amat sangat lama. Aku sudah merasa gak nyaman meskipun itu di menit pertama dalam pertemuan kita  setelah lama terpisah, Aku tahu aku durhaka, tapi aku gak tahu kenapa.

Aku sering menyesali sikapku yang tidak baik kepadanya setelah ia tidak ada disekitarku. Lalu aku mengiriminya pesan basa-basi, karena merasa bersalah. Tapi aku gak interest lagi setelah dapat respond. Aku kejam.

Sekejam-kejamnya aku, aku tahu bahwa aku penting baginya. Makanya berat untuk meninggalkannya terlalu jauh. Karena dia pasti amat sedih. Biar aku jadi anak durhaka yang penting aku gak membuatnya terlalu sedih. Aku takut aku menyesal, yang terlalu menyesal.

Aku merindukan hari-hari dulu. Ketika semua indah meski kehidupan susah. Ketika hanya ceritanya yang bisa aku dengarkan. Ketika hujan dan lampu padam lalu bercengkerama bersama.  Untuk kenangan yang seperti itu jiwaku memberontak. Aku tidak menyukainya karena dia amat berbeda dengan yang kutahu dulu. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu. Sekarang apapun yang dia lakukan nampak tidak pas dalam pandanganku. Aku yang berubah, atau dia juga?. Aku rasa kita sama-sama berubah. Karena hidup berubah. Apa yang pernah kita miliki bersama telah hilang, yang tersisa hanya kutukan. dan kita tinggal jasad, yang jiwanya telah lama berkelana. Aku dan dia sudah lama berada pada persimpangan jalan yang berbeda. Apa yang dia mau, dan apa yang aku mau jelas berbeda. Pikiran kita berbeda, bahkan kita sudah tidak nyambung lagi waktu bicara. Ini salah siapa? aku kah penyebab semua ini?. Aku tidak tahu.

Maret 30, 2014

Diary, Diare, Dilema Sarjana Muda

Orang memang butuh untuk bermetamorphosa. setiap orang harus menjadi adaptif atas segala keadaan dan tempat. kemampuan itu wajib dimiliki oleh setiap manusia. apabila tidak, maka alam yang akan memaksa.

Metamorphosa yang memaksa. sudah kodrati mungkin ya. bahwa kita dipaksa untuk beradaptasi atas suatu keadaan dimana kita belum siap dalam menghadapinya, dimana kita sudah terlanjur di design santai dan selalu mengandalkan keberuntungan. padahal dalam suatu titik, keberuntungan tidak selalu berpihak. setelah kita ditinggalkan oleh keberuntungan yang selama ini senantiasa menemani kita, maka kita akan tumbang.

Saya punya kepedean yang sangat tinggi bahwa saya secara khusus dicintai oleh Tuhan. itulah yang didoktrinkan oleh orang tua saya sejak kecil. meskipun ketika menginjak remaja saya diuji oleh ujian sekuat serangan tsunami akbar, saya masih meyakini bahsa secara spesial saya yang paling disayangi oleh Tuhan.

Kepercayaan itu terbukti, dengan banyaknya kebaikan yang saya dapat. di jalan saya yang berliku dan terjal, Tuhan mampu menenangkan saya, memberi saya kenyamanan. bahkan ketika harus melewati terowongan kehidupan yang menakutkan sekalipun, mata dan hati saya ditutup, sehingga saya tidak sempat merasa takut. saya terbiasa dicinrai oleh Tuhan. oleh karena itu saya tidak memiliki kekhwatiran barang sebiji pun tentang masa depan saya. Karena Tuhan yang amat meyangangi saya pasti telah menyediakan jalan terindah untuk masa depan saya. dan karena Tuhan mencintai saya, semua orang juga begitu. banyak yang salut, bangga sekaligus terharu dengan perjuangan hidup saya. tapi hal-hal positif itu kini berubah jadi boomerang dalam hidup saya.

Saya telah mencari kerja dan hidup kayak babi selama hampir dua bulan. saya cukup tersinggung dengan status facebook salah satu teman saya yang menyatakan bahwa, sungguh mengenaskan mahasiswa yang hidup dengan moto MTN (mangan, turu, nelek). Saya amat tersinggung karena saya selama dua bulan ini hidup seperti itu. aktivitas yang saya lakukan hanya terbatas di depan layar laptop, browsing lowongan kerja, kirim CV, atau download drama dan nonton drama. bahkan saya pernah tidak keluar kos selama 3 hari full.

Saya amat tertekan. saya berdoa tiap hari. saya berubah menjadi lebih alim dari biasanya karena kemudian saya shalat malam tiap hari, dzikir tiap malam, puasa hampir tiap hari, tilawah lebih dari 1 juz perhari. itu terjadi ketika saya punya harapan yang saya harap akan dikabulkan oleh Tuhan. tapi ketika saya sudah pada kesimpulan bahwa saya harus merelakan harapan itu saya kembali menjadi umat yang biasa-biasa saja. Tuhan pasti membenci saya karena ini.

Saya merasa tertekan dengan ekspektasi keluarga saya, bahkan orang sedesa di kampung saya. betapa keluarga saya suka sekali meggembor-gemborkan prestasi saya disini, saya tertekan. seandainya mereka tahu apa yang saya lakukan selama ini, pasti mereka akan kecewa terlebih keluarga saya. saya benci karena saya harus memikiul beban yang seberat ini. membangkitkan ekonomi keluarga, mengangkat harkat dan martabat keluarga, menjadi orang yang benar-benar baik. I'm not superwoman. Iam just NITA.

Saya seringkali marah, tapi saya tidak pernah menyatakan isi hati saya yang seperti ini kepada keluarga. mereka telah begitu asing bagi saya. semenjak kepergian bapak, saya tidak punya siapa-siapa. saya hanya punya Tuhan dan teman-teman. kenapa teman-teman?. karena saya hidup dari bantuan mereka. bayangkan saja kalau saya tidak punya teman, saya tidak bakal bisa meneruskan hidup ini. dari sini bisa kalian bayangkan berapa banyak hutang materiil dan spirituil saya pada teman-teman saya. saya sudah amat merepotkan jiwa raga mereka. teman mana yang belum saya hutangi selama ini. bahkan banyak diantara mereka yang masih belum saya bayar karena saya sekarang pada kondisi yang masih butuh ngutang. so, mengenaskannya hidup saya pada level ini adalah bahwa saya bergaya hidup MTN tapi saya terus menumpuk hutang. tapi saya masih percaya bahwa Tuhan menyayangi saya dengan amat spesial.

Saya terus terang tidak tahu, jalan hidup mana yang harus saya pilih. tapi atas tuntutan keluarga saya harus bekerja. oke saya akan bekerja. karena untuk studi lanjutpun saya tidak tahu mau studi apa dan dimana. saya masih belum minat untuk meneruskan studi saya, berkaca pada kesengsaraan saya selama S1 saya ingin sedikit lebih merdeka.

Tapi kemerdekaan rupanya berharga mahal. saya sudah melamar ke hampir duapuluh perusahaan. salah satunya saya sudah sampai di tahap akhir seleksi tapi saya harus gugur karena mereka butuh yang berpengalaman bukan fresh graduate. I dunno. perusahaan ini membuat saya berharap luar biasa pada awalnya. karena saya percaya dengan takdir, dan ketika melihat namanya, mengikuti rangkaian test-nya saya percaya bahwa saya ditakdirkan untuk bekerja disini. kepercayaan itu meninggi saat kemudian saya diberitahu bahwa saya diajukan di salah satu cabangnya di kota Semarang. saya amat terkesan, karena saya suka dengan kota itu. hidup di Jawa Tengah saya yakini akan menjadikan saya pribadi yang sopan setelah cukup lama terkontaminasi dengan ke-urak-an Suroboyo.

Semarang pada kahirnya melayang karena sekali kagi saya terlalu melambungkan harapan. padahal saya sudah gembor-gembor ke keluarga, teman, bahkan dosen. sakit hati dan malu sekali. saya tidak sedih, saya tidak menangis. saya hanya lebih sering merindukan bapak ketika malam, dan saya menangis bukan karena saya tidak ketrima kerja, tapi saya merindukan bapak lebih dari biasanya. andai bapak masih ada, berarti saya masih punya keluarga untuk mengadu dan meng-aduh.

Ya, saya cukup tegar secara emosional. tapi tekanan ini rupanya menyerang jaringan lain. emosi yang dipendam akan berbuah demam. lama sekali saya tidak sakit. saya ingat pernah sakit begini ketika saya masih berstatus mahasiswa baru dan saya beradaptasi secara menggila waktu itu. jadi saya sakit karena under pressure oleh keadaan. sekarang masa itu saya alami. saya baru lulus dan saya jatuh sakit. rekor sakit relama saya seumur hidup. 3 hari demam tinggi, 2 hari batuk-flu, 1 hari demam tinggi dan saat ini saya diare. pada tahap ini saya menyadari bahwa secara emosional dan fisik saya sudah K.O. Saya sakit, tidak punya duit, banyak utang, under pressure, dan tidak punya harapan. saya bakal mengenang saat-saat ini seumur hidup saya. betapa indahnya cobaan Tuhan. ia sedang mengajari umat yang amat disayanginya untuk mandiri, untuk bersabar, untuk tegar, dan untuk setia dalam mempercayai dan mengimani kehendak-kehendak baiknya. Tuhan aku tidak pernah bendi padamu atas semua ini, ini mengingatkanku betapa spesialnya aku bagiMu. aku masih bersedia untuk terus diuji sampai menurutMu aku layak mendapatkan keistimewaan-keistimewaan darimu...

Juni 02, 2013

Sebuah Dongeng:Akhir Hidup Seekor Semut yang Apatis

Seekor semut merah hidup diantara gerombolan semut hitam, berupaya merubah perilakunya sebagaimana perilaku semut hitam, akan tetapi ia tidak pernah diterima sebagai mana semut hitam, sebab bagaimanapun warnanya tidak hitam. Semut merahpun berupaya menemukan koloni semut merah lainya, ia bertemu dengan sekawanan semut.

Ia berpikir bahwa ia sudah berada di tempat yang benar, bersama kawan-kawan sebangasanya, akan tetapi kemudian ia menyadari bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar di terima, sebab ia sudah terlahir dan besar dengan sendirinya, dijauhkan dari kehidupan sosial, sehinga bagaiamanapun ia berjiwa anti sosial. Ia kemudian menemukan dunianya, rupanya di sudut selokan bersama selembar daun kering yang cukup menghiburnya sebab cukup asyik dibuat bermain terjun payung. semakin lama ia semakin merasa bahwa ia sama sekali tidak memiliki koloni. 

Ia berusaha membuka pertemanaan dengan semut biru, pink, coklat dan lain sebagainya, akan tetapi ia selalu akan berhenti pada anggapan bahwa; "aku rupanya tidak pernah menjadi teman yang menyenangkan bagi mereka, dan mereka sama seklai tidak pernah mengerti kau, mereka hanya menuduhku, dan aku selalu merepotkan". 

Siapapun yang dekat dengan si merah, akan berakhir kecewa, sebab sifatnya yang penyendiri dan memang hanya bisa dimengerti dirinya sendiri. Ia tidak pernah berupaya untuk berbaur dan berbagi pikiran dengan kawan semut lainnya. Akan seperti apa akhir cerita dari si semut merah?. Semut merah tidak akan pernah mengerti apapun kecuali menyenangkan diri sendiri, ia hanya akan mati apabila tanah yang digalinya cukup penuh untuk mengubur dirinya, bukan di dalam lubang, tapi dalam gundukan. Ia akan menghilang tanpa orang lain tahu, ia terperangkap dalam gundukan tanah tanpa semut lainnya tahu bahwa ia terkubur oleh apa yang ia sendiri gali dengan sendirinya. end.

April 21, 2013

Becoming Women: What The H*ll is going on to the feminism??

TENTANG KARTINI DAN HARI PERINGATANNYA
 
Hari ini hari kartini, dan tidak ada kaitannya apakah saya Kartini mania atau bukan, saya hanya merasa perlu merefleksikan diri perempuan saya pada moment yang telah disepakati oleh negara ini sebagai moment tertentu dalam sejarah, yang menyeret kaum wanita dalam catatannya.

Saya juga memiliki pertanyaan yang sama dengan saudara-saudara sekalian mengenai apa makna Hari kartini? mengapa harus Kartini, dan bagaimana harus memaknainya dalam kehidupan saat ini?.Apabila anda berkenan (saya rasa harus berkenan, karena ini blog prribadi saya) saya ingin menyampaikan beberapa pendapat. Hari kartini maknanya adalah, bahwa bangsa Indonesia rupanya tidak semuanya buta akan eksistensi kaum perempuan sebagai kaum yang berdaulat dan merdeka untuk berkiprah sebagaimana yang dilakukan kaum lainnya. Sejak jaman dahulu, dimana kebayakan orang Indonesia, terutama perempuannya waktu itu sibuk memikirkan apakah besok masih ada iubi yang bisa dimakan, seorang kartini sudah memiliki pemikiran mengenai peran perempuan yang selama ini secara kultural 'dengan sengaja' dihilangkan dalam catatan kehidupan manusia. 

Tidaklah mengherankan mengapa Kartini, mengapa bukan perempuan lain?, dia kan bangsawan yang tidak perlu repot-repot berfikir mengenai apa yang dimakan besok, segalanya sudah tersedia dalam jumlah yang banyak. Kalau begitu mengapa bukan perempuan lain?, mengapa bukan Dewi Sartika, Cut Meutia, dkk?. Itulah kekuatan nilai dari sebuah wacana, kartini secara kuantitas tidak berperan sebesar nama-nama lain tersebut, karena Kartini tidak menantang penjajah, ia bekerja dalam ketentraman persahabatan dengan orang Belanda, sang penjajah. Hal inilah kemudian yang oleh kaum 'sinistis' (berasal dari kata sinis, suatu kebiasaan yang agak kurang menyenangkan dimana pengidapnya cenderung melabeli suatu hal/ peristiwa atau manusia dengan hal negatif) katakan sebagai bagian dari propaganda kaum Barat. Bangsa ini sudah kebarat-baratan sejak lama, oleh karena itu apa yang disukai oleh barat akan diabadikan olehnya. 

Kebetulan memang karya Kartini "habis gelap terbitlah terang" memang dipublikasikan oleh Belanda dimana memang buku ini adalah kumpulan surat yang kartini kirim ke sahabatnya yang orang belanda itu. Maka tidaklah heran apabila orang belandalah yang menerbitkan buku ini. Seandainya saja para pejuang perempuan kala itu juga rajin berbagi pemikiran sebagaimana yang dilakukan kartini, dan seandainya saja orang Indonesia dianugerhi ketelatenan dan kemampuan naluriah untuk pengarsipan, maka jalan Kartini tidak akan semulus itu untuk memperoleh predikat Pahlawan Nasional, sebab banyak mendapat pesaing. Akan tetapi sejarah membuktikan kekuatan sebuah wacana, dimana tinta hitam lebih abadi dibandingkan dengan darah, dimana ujung pensil lebih tajam dari bambu runcing. Maka dari itu salah satu yang dapat kita petik dari momentum hari kartini adalah bahwa kita masih perlu berjuang, bahwa tinta masih sangat ampuh tak termakan masa.

MENJADI PEREMPUAN BEGITU PENTINGNYA??

Seseorang atau sekelompok orang tidak akan memahami mengapa perempuan begitu getol memperjuangan apa yang mereka nilai 'hal yang sudah sewajarnya' sebelum ia mengerti seperti apa menjadi perempuan. Mereka tidak akan mengerti apabila mereka tidak berusaha memahami dan usaha itu nyaris mustahil apabila mereka masih bukan seorang perempuan. Memang kenapa dengan perempuan. Perempuan makhluk sejuta perkara. Dunia ini adalah perkara bagi perempuan, kehidupan ini sejak bagi buta ketika mata dibuka, perempuan melihat perkara. Sudah jam berapa ini?, apakah anak-anaknya sudah bangun?, Bagaimana kalau mereka sampai terlambat sekolah?, Harus memasak apa hari ini?, Apakah uangnya cukup apabila ia harus menuruti appetite seluruh anggota keluarga?, Apakah langit mendung?, Apakah moodnya baik hari ini?, apakah aku siap mengahadapi hari ini?, apakah perutku tidak sakit?, apakah 'tamu'nya datang, oh jangan hari ini aku ada ujian!. Sama sekali bukan hal penting kan dibandingkan dengan permaslahan negara, inflasi, ancaman nuklir, perang, dan lain sebagainya dimana menurut kultur kaum laki-laki yang berwenang untuk memikirkannya. Hingga pada akhirnya segala sesuatu yang dipikirkan perempuan tidak penting, sebab kultur sudah mengklasifikasikan mana yang penting dan mana yang tidak, seolah yang penting bisa bertahan meskipun yang tidak enting tidak diperhatikan. Apa yang dipikirkan oleh perempuan, apabila tidak dipikirkan oleh perempuan, apakah kehidupan ini bisa tetap berjalan?, BISA!. Apakah yang dipikirkan laki-laki, apablila tidak dipikirkan apakah kehidupan masih bisa berjalan?, BISA!. Lalu siapa yang mengada-ada, kamu atau aku? atau kesemuanya dari kita??.

SUATU JAWABAN YANG BERMEREK FEMINISME

Para perempuan menuntut kesetaraan, cuihh mereka mengada-ada, omong kosong. Bukankah segalanya sudah cukup setara adil sekarang ini?. Kesempatan kerja sudah terbuka lebar, kesempatan meraih pendidikan jenis apapun sudah tidak dibatasi, hanya saja permasalahannya terdapat di perempuan sendiriyang belum mau atau belum mampu mengambil kesempatan tersebut. Benar begitu?.

Mereka masih teriak-teriak mengenai pelecehan seksual, kekerasan, tekanan, dan lain sebagainya. Mereka tidak mau berkaca apakah tingkahnya sudah benar sehingga harus mendapatkan segala perlakuan itu. Jiwa mereka lemah, dientak sedikit saja sudah mewek, lalu laki-laki yang salah karena memiliki intonasi suara yang lebih tinggi?, Jangan bercanda!.

Saya sudah tekankan sebelumnya bahwa anda belum akan mampu memahami mengapa perempuan demikian, mengapa begitu banyakhal dituntut, padahal segalanya baik-baik saja. Lalu saya berkata, anda tidak memiliki mata, hati dan telinga perempuan. Perempuan melihat, merasakan dan mendengar apa yang tidak anda lihat, rasakan dan dengar. Ini kodrati, bahwa masing-masing dari kita dianugerahi kelebihan dan kekurangannya. Apabila laki-laki sudah cukup mengeksplorasi kekurangan dan kelebihannya (jati dirinya), lalu sekarang giliran perempuan. Karena dulu belum diberi kesempatan, saat sekarang diberi kesempatan, perempuan dituduh mengada-ada. Oleh karena itu perempuan melakukan pemberontakan, karena perempuan membenci kerusakan, perempuan tidak mengangkat senjata, mereka mengangkat pena dan suara. itulah feminisme, terlepas dari berbagai genrenya.

Mengapa yang perempuan suarakan cenderung tidak terdengar merdu di telinga laki-laki atau perempuan itu sendiri yang terhanyut dalam logikalisasi laki-laki?. Sebab diantara kita memiliki arah logika yang berbeda, sebab dalam berfikir perempuan memiliki perpaduan dengan perasaan dan itu menurut klasifikasi dunia laki-laki aneh dan terkesan tidak logis. Tapi akankah kalian ketahui bahwa yang kalian pikir logis itu terkadang cukup aneh di benak perempuan. Mengapa untuk pembangunan kita perlu bantai membantai dulu?. Itu salah satu contoh ketidak logisan dalam benak perempuan, tapi cukup logis dan wajar sajaj dalam benak laki-laki. Well, kita berbeda sehingga perdebatan mengenai apakah wacana kesetaraan ini masih perlu atau tidak hanya akan berujung pada debat kusir sebab kita memiliki sudut pandang yang mengkusir juga.

Kesetaraan perlu? YA, sebab kehidupan masih belum setara (Nita, 2013). Mengapa disebut belum setara?. sebab masih ada satu pihak yang merasa superior diantara yang lain. dengan itu mereka dengan leluasa melakukan subordinasi terhadap pihak yang lain. Subordinasi, bahasa berat!. Memang apa yang kau ketahui tentang subordinasi?, kau mengalaminya? atau hanya hasil kekaguman terhadap buku-buku feminismu?. Saya mengalaminya, didunia saya yang bebas, merdeka dan mandiri, saya masih merasa ditekan. Apabila saya bukan perempuan, saya yakin saya tidak akan mengalami hal-hal semacam ini. Bahkan beberapa teman menilai saya 'tidak cukup' perempuan. Akan tetapi tampilan dan keperempuanan saya bagaimanapun tidak memunafikan identitas saya sebagai perempuan. Lalu apa yang terjadi. Saya berfikir bahwa perempuan manapun pasti memiliki riwayat yang tak terlupakan berkaitan dengan identitas keperempuanannya. Menyadari atau tidak, semua perempuan pasti mengalami 'pelecehan'. 

Mengapa dilecehkan?, karena mereka merasa lebih superior dibandingkan dengan kita. Pelecehan bentuk apa itu. Saya baru menyadari bahwa terdapat juga yang namanya tekanan psikologis yang dihasilkan atas tindak pelecehan yang menyakiti tidak hanya fisik tapi psikologis. Apabila diteliti secara medis, tidak akan terlihat dampaknya, tapi karena perempuan memiliki sisi psikologis yang khas, dalam dan amat rumit, suatu tindakan pelecehan tidak langsung bisa berdampak fatal dalam kehidupan perempuan. Beban psikologis akan mempengaruhi fisik dan tidak dipungkiri bahwa manusia bisa mati karena tekanan psikologis. 

Saya baru menyadari akan urgensi wacana kesetaraan setelah saya mengalami insiden yang sangat membuat saya kehabisan akal. Suatu insiden yang untuk keluar dari mulut saya saja susah untuk diucapkan sebab berkaitan dengan apa yang dikatakan budaya sebagai 'taboo'. Oleh karena itu beban psikologisnya semakin menjadi dan kemudian berkembang dalam pikiran saya bahwa hal seperti ini tidak bisa jika hanya didiamkan saja. Saya bisa merangkum kejadian itu dalam bahasa kiasan, dan suatu saat nanti apabila saya cukup mempunyai power untuk itu saya akan menceritakannya. Jadi kejadian itu adalah saat dimana seorang oknum melakukan tindakan yang secara psikologis menekan saya. Sebab saya merasa dilecehkan dengan tindakan itu, sehingga memakan cukup banyak waktu untuk berfikir mengapa hal demikian terjadi, mengapa ia melakukannya?. Saya kembalikan pada diri saya sendiri, apakah saya pantas mendapat perlakuan seperti itu?, tidak, sebab saya sedang dalam sikap dan penampilan yang amat baik. Lalu mengapa ia melakukannya?, apakah kamu sanggup melakukan hal itu?, menurutku tidak, Dan tidak akan da perempuan yang sanggup melakukan itu terlepas ia waras atau sinting. Lalu mengapa orang itu demikian, sebab ia merasa ia dapat melakukannya sebab ia lebih superior, dan tindakannya merupakan cermin kesuperiorotasan. Tidak ada hal lain yang dibanggakan kaum laki-laki keculai superioritas, jarang sekali diantara mereka ada yang bangga apabila mereka dinilai cinta damai dam lembut. Mereka akan amat bangga apabila disebut tangguh dan perusak. 

Lebih jauh lagi saya berpikir mengapa ini terjadi? sebab kesetaraan belum benar-benar terwujud. sebab masih ada yang merasa lebih superior dibandingkan dengan yang lain, sebab masih ada pihak yang cenderung melakukan penekanan terhadap pihak lain. Bagaimana agar hal-hal demikian tidak terjadi?. Maka kesetaraan harus mulai dibangun. Dekonstruksi budaya memang mustahil terjadi apabila tidak pernah dicoba. Sedikit demi sedikit pasti akan bisa dirubah. Ingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali Tuhan dan perubahan, mengapa dekonstruksi budaya mustahil terjadi?. Upaya ini memang berat, belum lagi tamparan dan bantahan dan hujatan yang akan diterima sebab dinilai mempersulit hal yang mudah. Akan tetapi tidakkah kalian semua menyadari bahwa permasalahan ini adalah permasalahan umat manusia, yang ini juga memberi dampak yang luar biasa besarnya bagi perkembangan peradaban kedepannya?. 
.............................................

-TBC-



Maret 27, 2013

Moon's Lover

"saya memang sedikit kuno. maaf saja"

Inilah yang ingin saya katakan pada seseorang diseberang sana yang tiba-tiba saja menge-chat ku di suatu "tembok ratapan". Bukan siapa-siapa, hanya seorang teman lama yang karena tingkahku kemudian dia berfikir yang out of mean/ salah duga. Aku ga perlu menceritakannya panjang lebar tapi aku merasa ingin bercerita sedikit saja karena bagaimanapun juga hal ini membuatku sadar tentang orang macam apa aku ini.
..........................
"nitaa"
"yaa"
"minta no hp nya"
"buat apa?"
"di save nit"
"memang bisa berbunga?"
1,2,3, menit kemudian (jeda yang lumayan panjang)
"disimpan nit" (dia lupa kalau aku lumayan pinter bahasa Inggris)
"iya.."
"bisa berbunga kalau no kamu banyakk"
"memang bisa nambah saldo?" (akhir-akhir ini pikiranku memang hanya berputar pada saldo rekening)
"bisa.. kalau kamu kasih q pulsa tiap bulan"
"heee"
"mana nomornya nitt."
.................
(nita has just left the chat)
 
Saya memang agak kuno karena saya selalu gampang pede. Saya merasa permintaan nomor tanpa alasan bisa berarti sesuatu yang lain. Dan sesuatu itu sangat tidak saya sukai. Memang kenapa butuh nomerku?, apa dia sudah kehabisan akal pengen pasang nomor apa di togelnya?. Padahal belum lama ini aku ingin merubah image ku yang terlanjur 'cuek' bahkan 'sombong'. Aku pengen menjadi orang yang tergambar sebagai sosok baik hati yang ramah, tapi aku masih tidak bisa memaksakan diri, biarkan aku abadi sebagai sebagai seorang yang 'congkak' dari pada harus menerima sms "gi npapz?" di malamku yang khusyuk.

Ah! aku habis nonton dorama yang kereeen banget. Tentu saja doramanya KimuTaku-kun :). Judulnya "Moon's Lover"/ "Tsuki no koibito". Pemeran utama wanitanya cool banget, lebih cool dari pada Han Yoo Joo-nya Coffee Prince. Well, dia pinter banget, aku pengen kayak dia. Emotional Management-nya sungguh luar biasa, bijaksana, gak picik, dewasa, easy going. Over all dorama itu mengajariku bahwa dalam hidup ini kita tidak perlu untuk selalu menjadi pemeran utama, kamu gak akan bisa bahagia kalau kamu menuntut penuh dirimu untuk jadi center from the center. Dan, suatu proses itu manis, saat kamu sukses kamu biasanya tidak sempat merasakan hal-hal kecil disekitarmu. Kamu bahkan lupa bahwa senyummu manis :) (makasih). Jadi untuk apa kamu 'murung' dimasa proses ini? kamu memiliki meskipun tidak semua yang kau inginkan ada, setidaknya kamu memiliki dirimu sendiri, jati dirimu masih utuh, dan sukseslah tanpa meninggalkan jati diri itu..

Selain itu juga apakah aku memang seperti ini, maksudnya seberapa tipis perbedaan antara  konsisten dan keras kepala?. Aku mempelajari feminisme buakan karena apa, bukan karena aku mencari perhatian, atau karena aku ingin tampil beda. Aku hanya menyukainya karena aku baru tahu bahwa ada hal baru (dalam pikiranku) mengenai itu. Bahwa rupanya hal yang kita pikir baik-baik saja dan sudah semestinya begitu rupanya tidak demikian. Bahwa rupanya didunia ini banyak hal yang masih tercover, kita patut menelanjanginya agar kita tahu apa sebenarnya yang terjadi, dan agar dunia ini berkembang. Baru pertama kali aku memiliki sesuatu ketertarikan yang rasanya sudah serasa keluarga, kami berteman akrab, aku dan feminisme, kami memiliki moment tersendiri dalam hidup kami. Itu saja.

Dan bagaimana jadinya aku dengan feminisme ini?, entahlah. Tapi aku yakin pengharapan feminis tentang kesetaraan dan kontestasi yang diimpikan akan terwujud. Tapi aku sadar sekali bahwa ada beberapa hal yang gak akan pernah berubah. Bahwa perempuan akan senantiasa mengerti, bersabar dan menanti. Bukanlah salah kaum laki-laki yang membuat para perempuan dalam kondisi seperti itu, hanya saja Tuhan amat menyayangi perempuan sehingga Ia memberikan kelebihan itu. Salam hangat bagi seluruh perempuan di seluruh dunia, atau yang sedang tamasya di luar angkasa. Bersyukurlah karena Tuhan menganugerahimu kelembutan hati :).

Maret 21, 2013

Jalan Taqwa



Ketika Ketaqwaan Menjadi Sebuah Permainan

Manusia telah menyalahgunakan ketaqwaannya terhadap Illahi. Manusia seluruhnya menyadari bahwa terdapat kekuatan yang agung yang menguasai seluruh apa yang ia ketahui ada dan bahkan yang belum ia ketahui keberadaannya. Manusia mengaku telah mengimaninya oleh sebab itu kemudian timbul perilaku yang bernama taqwa dalam diri mereka. Seperti apa taqwa tersebut?. Taqwa sekarang telah salah dipergunakan, taqwa tidak lagi memiliki makna seperti yang semestinya. Orang mempergunakan taqwa sebagaimana mereka mempergunakan pakaian mereka. Bukankah itu baik bahwa pakaian adalah sesuatu yang senantiasa dipakai?. Masalahnya sekarang adalah pakaian itu sendiri juga banyak sekali yang tidak selayaknya untuk dipakai. Begitu juga dengan taqwa manusia. Seringkali manusia memakai ketaqwaan yang tidak semestinya. Taqwa kemudian bermakna kondisional, dimana manusia bisa sesuka hati menentukan kapan dia taqwa dan kapan dia harus membangkang. Allah dengan segala keagunganNya tentu saja merasa dipermainkan. Manusia itu dia pikir dia siapa sehingga berani mensiasati Allah?. Sehingga jangan salahkan Allah apabila kemudian kau dihukum. Ujian yang dating padamu tidaklah serta merta merupakan ujian yang hanya bersifat mendidikmu, hal itu bisa berlaku sebagai hukuman. Kau mengentengkan Allah?, kau pikir kau bisa hidup tanpa bantuanNya?, Kau sudah merasa hebat?. Lalu Allah menunjukkan sedikit saja bagian dari kuasanya dan manusia akan mendekati batas kegilaannya, tentu mereka akan benar-benar gila apabila mereka tidak kembali kepada garis ketaqwaan yang seharusnya. 

Allah maha pengampun, namun jangan lupakan Allah Maha Mengetahui. Bahkan Allah mengetahui siapa saja yang benar-benar meminta ampunan dan siapa saja yang pasti akan mengulangi kesalahannya. Manusia hanyalah pendusta amatiran. Lalau dia pikir dia bisa mendustai Allah dengan taubat palsunya?. Apalagi yang bisa kau lakukan ketika kau menghadapi kesulitan yang benar-benar telah menemukan jalan buntu?. Kau mau lari kemana?. Ingatlah bahwa seakhir-akhirnya jalan kembali adalah kepada penciptamu yakni Allah Subhanallahu Wataala. Kau kembali lagi kepada Allah setelah sekian kali berkhianat, apakah kau yakin akan dapat maafNya?. Allah Maha Pengampun, Allah mengampuni permintaan ampunan yang benar-benar tulus. Lalu bagaimana cara untuk menunjukkan ketulusan tersebut?. Tunjukkan dengan cara memperlihatkan penyesalanmu setiap kali kau membuka matamu, ketika kau merasakan nikmat menghirup nafas dan ucapkan Istighfar setiap kali penyesalan itu kau rasakan. Insya Allah permintaanmu untuk dimaafkan akan dikabulkan. Dan berikrarlah, demi Allah, lebih kepada dirimu sendiri bahwa kau tidak akan mengulanginya lagi. Bertaubatlah karena sesungguhnya hukuman Allah itu nyata dan kau adalah makhluk yang tidak berdaya dalam menghadapi kemurkaannya……

Maret 16, 2013

Life is so truee..

Pagi ini sabtu yang membahana dengan segenap kemalasan, teman setiaku. Saya ingat dulu saya bukan pemalas karena saya dituntut untuk menjadi yang terbaik dalam beberapa kurun waktu. Ketika saya terbebas dari tuntutan itu, saya berkata pada diri saya sendiri, "kau boleh mencoba bermalas-malasan, tapi jangan lama-lama". Tapi hukum kehidupan ini sudah terlanjur mengatakan bahwa sesuatu hal yang dilarang akan cenderung diulang. Yaa.. dan aku kemudian menjalani pola hidup malas selama sepuluh tahun terakhir ini. Aku belum pernah mengenal tipe orang moody yang melebihi derajat ke-moody-anku. Aku tidak akan menyapa orang apabila aku tidak mood, aku tidak akan pergi kemanapun meskipun itu wajib apabila aku tidak dalam mood untuk pergi. Dan sekarang aku lagi gak mood untuk meneruskan tulisan ini. Jadi apa donk? kita berhenti saja disini :)

Dalam perjalanan hidupku ada yang bilang bahwa kita patut memasang target tertentu yang ingin kita capai dalam hidup ini apabila ingin hidupmu teratur. Ide yang bagus!. Jadi saya menurutinya. Hal pertama yang saya buat adalah catatan hutang. And then yang terjadi adalah, mood ku jadi berubah tambah buruuuk. Karena apa? aku menemukan fakta bahwa rupanya mereka hampir mendekati mustahil untuk diselesaikan :P. Lalu saya mencoba nge-list daftar keinginan dalam hidup dan rundown kehidupanku. Lamaaaaaaaa saya mengaturnya sampai-sampai saya kepikiran bahwa tidakkah saya sedang melangkahi wewenang Tuhan?. Hahaha.. memang sih tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa dosa besar menuliskan target hidup, masalahnya saya adalah tipe orang yang tidak ingin meninggalkan pekerjaan setengah-setengah. Maksudnya, kalau saya membuat rundown kehidupan, berarti saya juga harus membuat jadwal kematian (=.="). Saya tidak yakin bahwa saya ingin berada di dunia ini terlalu lama, tapi saya memang butuh waktu banyak untuk menebus dosa-dosa saya agar saya tidak perlu direbus di api neraka nantinya. Apakah saya bisa request tahun kematian saya kepada Tuhan?. BODOH!

Satu lagi yang cukup menguras waktu saya dalam membuat rundown ini. Adalah kapan saya akan menikah?. Salah, bukan kapan, tapi apakah saya akan menikah???. Saya bukanlah seorang feminis radikal, tapi saya merasa bahwa pernikahan itu sama jauhnya dengan kapan saya akan sembuh dari trauma buah rambutan. Saya senantiasa berdoa, ubahlah saya Ya Allah, jadikan saya wanita normal yang galau mengenai pernikahan every minutes in my life like everybody else. Saya tahu karma memang akan datang, sebagaimana yang kakak saya katakan bahwa dosamu dibayar kontan saat kau hidup, di akhirat itu masalah bunganya ajah :D. Saya selama ini senantiasa menyeringai dan tertawa di dalam hati apabila melihat teman-teman/ kakak-kakak yang galau pengen nikah. Saya berfikir bahwa mereka kurang kerjaan, dan konyol sekali. Dan saya takut Tuhan akan menghukum saya dengan menjadikan saya perawan seumur hidup T.T. Ampuni saya Tuhaaaaaaaaaaaaann.

Tapi saya ingin punya anak di usia muda. Saya tidak ingin (belum) menikah tapi saya ingin punya anak. Saya ingin menjadikannya teman hidup saya, kereen sekali. Seorang anak yang pintar dan tampan kayak Baek Seung Joo ;) atau yang mama boy kayak di dorama 'Risou No Musuko'. Jadi saya pengen jadi mama di usia 25, tapi saya belum menerima konsep pernikahan. Saya ingin jadi the great mama. Seorang wonderwoman kebanggaan yang mengajak anaknya keliling dunia sehingga dia fasih berbicara banyak bahasa. Lalu dia harus pandai matematika, fisika, kimia, pokoknya segala macam hal yang saya tidak bisa dia harus bisa. Dia harus pintar nyanyi dan baca Al-Qur'an, balance kaaann. Tidak malas bangun pagi untuk shalat subuh dan ikhlas harus membaca al-ma'surat dan mendengarkan taujih pagi :D. Apalagi yaa?, eh tidak berwajah boros, awet muda. Dia juga harus gak gaptek, bahkan jadi hacker kayak Daisy, pintar renang, suaranya bagus pintar ngeband kayak Jung Yong Hwa dannn saya merasa akan menghancurkan hidup seorang anak manusia dengan sederet keinginan saya. Jadi intinya, biarlah dia jadi dirinya sendiri. Seperti saya begini adanya, saya tidak ingin orang lain banyak menuntut saya karena saya juga menerima mereka apa adanya. Saya begini dan ini bukan penyakit, inilah diri saya.

 Saya berhenti menuliskan rencana hidup saya saat saya menyadari pengalaman hidup saya selama ini. Bahwa apapun yang tertulis dalam hidup saya pasti tidak tercapai T.T. Jadi tema kehidupan saya adalah unpredictable, kalau begitu lebih baiknya saya menuliskan hal-hal yang tidak saya inginkan. Biar mereka tidak pernah terjadi. Apa itu??, saya tidak ingin mati dalam keadaan mengenaskan seperti tikus dijalanan surabaya yang seluruh organ tubuhnya keluar karena terlindas transportasi. Saya tidak ingin ibu saya pergi seperti cara bapak saya pergi, saya tidak ingin saat lulus kuliah saya linglung mau kemana dan menjadi pengangguran karena saya menjadi sorotan seluruh warga kampung saya :((. Saya tidak ingin hal-hal traumatis dalam hidup saya membawa dampak yang mengerikan bagi masa depan saya, cukuplah saya menyesalinya selama ini, jangan tambah saya hukuman yang lebih berat dari ini. Akhir kata saya sampai pada kesimpulan bahwa; benarkah hidup ini bisa sesuai dengan request kita?...............



  

November 20, 2012

Prosa ... (hanya prosa)

Saat malam kelam berselimut langit yang bagaikan tudung saji
kita berada didalamnya selayaknya sebuah sajian
sajian kehidupan yang isinya beragam-ragam warna
bisakah aku mengatakan warna pink untuk kebahagiaan?
padahal kuning lebih menarik..

Hari ini aku bertekad untuk lebih banyak diam
karena ucapan tiada lagi berarti 
karena jeritan tiada lagi bergema
karena renungan lebih mendamaikan

Aku banyak-banyak menyesal
mengapa jalan hidup harus begini terjal?
mengapa tidak kita temui langsung kebahagiaan?
mengapa harus seringkali gagal?
mengapa jadinya salah paham?
mengapa membenci begitu mudahnya dilakukan?
mengapa untuk menyayangi saja harus merasa berdosa?

Lalu dipersimpangan jalan kita akan saling bertemu
setelah saling menyakiti dalam diam
setelah saling asing dalam keakraban
setelah saling menyalahkan 
setelah beribu-ribu penyesalan
bertemupun hanya untuk bertukar senyuman masam
asing selamanya asing
merasa memiliki sesuatu tapi nothing!

Tapi betapa manisnya hidup ini
meski saling acuh dalam perhatian
dusta dalam kebenaran,
ingkar dalam perjanjian,
elakan dalam kesanggupan,
selalu ada syukur atas setiap jerit kesakitan
selalu ada senyum dalam duka mencekik jiwa
ada juga ketulusan yang membayar kebengisan
kesabaran yang bertubi-tubi
dan yang semestinya selalu diingat
ada do'a yang sama-sama terucap
untuk kebaikan bersama
satu sama lain
itulah persahabatan sekaligus permusuhan
tidak ada itu cinta
itu karangan penyair belaka
itu omong kosong





Oktober 26, 2012

PHP

Seluruh isi kehidupan ini kebanyakan adalah mengenai Harapan. Tidak hanya harus menumpang bus Harapan Jaya saat ingin bepergian ke luar kota, namun apapun itu disetiap sudut-sudut kehidupan pasti menyembunyikan harapan. Wuahhh.. aku berharaap jadi milyarderrr, aku berharap bisa pergi ke bulan, aku berharap dan berharap bahwa setiap harapan akan terkabul.

Ada harapan, berarti ada pengharap dan pengabul. Kita-kita ini adalah pengharap dan Allah adalah pengabul. Meskipun Allah itu maha baikkkk.. tapi tidak berarti semua harapan yang kita inginkan akan selalu dikabulkan. Allahlah yang tahu mana yang baik dan buruk bagi kita, jadi saat harapan kita tidak terkabul jangan langsung men-judge bahwa Ia adalah Pemberi Harapan Palsu (PHP). Selain itu mengharap saja juga tidak cukup, perlu ada usaha nyata yang menunjukkan bahwa harapanmu sangat besar. Harapan yang besar lebih diutamakan untuk dikabulkan.

Perlu dicatat pula bahwasanya setiap hal baik yang kita harapkan dan kemudian tidak terwujud, jangan langsung menilai bahwa ini pertanda bahwa menurut Allah itu bukanlah hal yang baik sehingga tidak dikabulkan dan membuat kita langsung menyerah dan tersungkur diatas meja. Ada jenis harapan yang butuh melewati proses percobaan berkali-kali karena Allah tahu kesuksesan instan itu gak baik bagi kita. Saat Allah memutuskan untuk 'menunda' pengabulan atas harapan besar kita berarti Ia sedang menyiapkan sesuatu yang WOW buat kita. Lalu mengapa harus ditunda?. Itu agar kita belajar. Belajar untuk lebih dapat memaknai kehidupan, belajar untuk bekerja keras, belajar untuk menjadi lebih baik, belajar untuk mencapai kesempurnaan, belajar untuk menjauhi kesombongan yang dibenci Allah. Ya karena tabiat manusia itu tidak jauh dari kesombongan begitu di beri kemudahan. Jadi waspadalah, jangan sampai penyakit menjijikkan itu menghinggapi kita.

Thomas Alva Edison bahkan telah melewati 100 kali masa percobaan sebelum pada akhirnya menelurkan sebuah karya besar berbentuk bohlam lampu. Bohlam lampu itupun hingga kini mampu menghantarkan peradaban dunia menjadi secanggih ini. Ini bermakna bahwa upaya yang keras akan menghasilkan sesuatu yang lebih fenomenal dan lebih bermanfaat. Jadi sudah gak relevan dong apabila kita menyerah hanya karena gagal sekali, duakali, tigakali, empatkali, limakali, dst :D. Tetap semangat meraih harapan dan cita untuk masa depan yang lebih baik. Karena setiap langkah yang kita tempuh, meskipun belum menemui keberhasilan namun faktanya semakin meningkatkan kapabilitas kita. Allah tidak pernah berdusta, Allah tidak pernah lupa untuk memberi imbalan pada setiap upaya yang diniatkan oleh niat yang mulia, Allah bukanlah PHP. So, tetaplah berkarya: Strong Hope, Real Action!

Agustus 15, 2012

I Do Friendship

HAKIKAT PERSAHABATAN: Why we have to do friendship??

Segala jenis hubungan yang ada dalam kehidupan manusia hendaknya didasari dengan ikatan persahabatan. Karena persahabatan itu sendiri mengandung berbagai macam esensi yang baik seperti contohnya togetherness, careness, understood, trusty, e.t.c. Siapa manusia di bumi ini yang tidak memiliki sahabat?, alangkah mengenaskan hidupnya. Bahkan Hitler pun memiliki sahabat. Karena sahabat adalah unsur terpenting dalam keberlangsungan manusia, sebagaimana yang tertera dalam kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam ilmu kedokteran diantaranya adalah: (1) Kebutuhan fisiologis, (2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, (3) Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki, (4) Kebutuhan akan harga diri, (5) Kebutuhan aktualisasi diri. Dari kelima kebutuhan dasar manusia ini, kita dapat memenuhi semuanya (keculai fisiologis kayaknya yaaa :D) dari sebuah relasi yang dinamakan persahabatan. Bagaimana sahabat mampu memberikan rasa aman da perlindungan, kasih sayang dan rasa memiliki, kemudian meninggikan harga dirimu serta membantumu dalam mengaktualisasikan diri. Dari sini telah jelas bahwa persahabatan bukanlah pilihan alternatif dalam kehidupan manusia, namun merupakan sebuah kebutuhan. Oleh karena itu hargai persahabatan yang kau miliki saat ini, jangan biarkan apapun juga merebutnya. Jangan ber-stigma negatif terhadap persahabatan, tidak ada yang salah dengan persahabatan kecuali cara yang digunakan orang-orang dalam membina persahabatan itu sendiri.

TENTANG SAHABAT: Menemukan dan Membina Persahabatan

Secara sederhana type kepribadian manusia dalam berelasi terbagi atas dua macam. Type pertama adalah mereka yang mudah sekali menemukan teman sehingga memiliki banyak teman dan type kedua adalah mereka yang sulit sekali menemukan teman. Type pertama cenderung berteman dengan tingkat relasi yang cukup hanya dalam taraf 'kenalan' saja. Mereka punya banyak teman, namun jarang atau tak ada yang berteman secara erat/ karib, sebab type ini cenderung fleksibel dan mudah bosan dalam menjalin relasi sosial yang stagnan. Type kedua adalah kebalikannya, ia sulit menemukan kenalan yang dapat dijadikan teman namun begitu berteman ia biasanya akan sangat erat dan akrab. Hal ini dimunculkan oleh tingkan intensitas pertemuan yang tinggi dan juga kesamaan pikiran, selera dan senses. So, tergolong dalam type manakah dirimu??
Saya tidak menyatakan bahwa yang memiliki sahabat adalah mereka yang tergolong pada type kedua, sedangkan type pertama tidak. Banyak kasus sebenarnya yang menunjukkan bahwa persabatan tidak jaranag terjalin antara mereka yang berbeda type. Hal ini dikarenakan oleh hakikat persahabatan itu sendiri yang tidak pilih kasih. Namun tetap saja terdapat perbedaan yang kentara, seperti contohnya bahwa type kedua lebih pandai dalam membina persabatan mereka. Karena dia sulit menemukan teman yang cocok maka dia akan dengan sangat berhati-hati dalam membina persahabatan yang telah ada. Apabila persahabatan yang terjadi antar type, yakni type pertama dan kedua menjalin persahabatan, maka yang terjadi biasanya adalah ketimpangan hubungan sebab si type kedua akan banyak berkorban sedangkan type kedua tidak begitu memberatkan persahabatan tersebut, atau bahkan yang lebih buruk lagi mereka tidak merasa sedang menjalin persahabatan.
Membina persahabatan harus dimulai dengan perwujudan dari esensi-esensi yang mendasarinya. Sebagaimana sebelumnya telah disebutkan bahwa bersahabat itu adalah saling mengerti. Ini merupakan salah satu unsur utama. Sebab pengertian adalah hakikat dari persabatan itu sendiri, apabila tidak terjadi sikap pengertian antar sesama teman, maka hubungan tersebut belum dapat dikategorikan sebagai persahabatan. Bagaimanakah yang disebut pengertian itu. Pengertian itu bukan berarti kita harus tahu seluruh rahasia sahabat kita. Bukan!, bukan itu yang dinamakan persahabatan itu. Persahabatan merupakan suatu relasi yang menghargai apa yang namanya rahasia pribadi manusia, karena persahabatan yang baik adalah persahabatan yang menegakkan HAM :). yAA.. Kita tidak perlu tahu banyak, tapi kita perlu banyak mengerti. Ingat yaa, perbedaan antara tahu dan mengerti itu tipis seperti fotamorgana, namun perbedaan maknanya besar sekali. Tahu itu terkadang bersifat menghakimi: aku tahu maka aku paling benar. Sedangkan mengerti bersifat memahami: aku mengerti maka aku berhati-hati. Tolong resapi dulu sebelum membacaa lebih jauh.
Di dalam pengertian terdapat kepedulian. Ibaratnya makan sepiring berdua lah, kepedulian itu tanpa pamrih loh yaaa. Bahkan kadang saking tanpa pamrihnya kita lupa berharap untuk mendapat pahala dari sikap peduli kita terhadap sahabat. Tapi jangan salah langkah dalam mengartikan kepedulian, peduli bukan berarti kita harus melakukan apapun yang sama dengan sahabat kita, menyanggupi apapun yang dikatakan mereka, juga membantu segala urusan teman kita. Terkadang ada kondisi dimana kita harus mengambil jalan tengah demi kebaikan bersama. Kita sebagai sahabat juga perlu bersikap aware dan senantiasa mengingatkan apabila sahabat kita 'lupa daratan' :P. Juga kita juga membantu sahabat kita untuk mandiri, karena dengan mereka bergantu kepada kepedulian kita yang bertubi-tubi bisa jadi itu malah akan berdampak buruk baginya. Selain kepedulian ada nihh yang juga amat penting sekali yakni kepercayaan. Konon mengapa seluruh dynasti yang kuat dimuka bumi ini hancur?, hal itu tak lain karena lunturnya kepercayaan. Permusuhan antar sahabat karib akan berdampak lebih sistemik dibandingkan dengan yang bukan sahabat atau yang memang jelas berstatus musuh. Perang saudara mungkin masih umum yaa, namun akan menjadi sangat mengerikan apabila itu perang sahabat (perang sahabat rebutan pacar, pleaseee... -.-"). Percaya juga bukan bermakna siap menerima segala doktrin yang diberikan oleh sahabat, awas bahaya laten kafir kalau terlalu percaya dengan sahabat ;D. Percaya terhadap sahabat berarti sanggup memahami segala situasi yang menyulitkan mereka, percaya terhadap kemampuan mereka, percaya terhadap kasih sayang mereka, percaya terhadap niatan baik mereka, percaya meskipun seluruh manusia di muka bumi ini tidak mempercayainya sahabat harus tetap berada di kubu percaya terhadap para sahabat-sahabatnya (if there are some complicated problem, so let's find out the answer to all of understanding). And finally, persabatan yang telah dibina oleh segalanya itu akan berdampak pada kebersamaan yang indah. Dengan kebersamaanlah candi Borobudur yang megah dapat dibangun, dengan kebersamaan lah Indonesia dapat merdeka. dengan kebersamaanlah kita dapat membuat dunia ini menjadi lebih baik :). Selamat membina persabatan yang manis..

PHENOMENA: Sahabat jadi Cinta??


Persahabatan tidak hanya terjadi antar sesama jenis, banyak kasus yang menunjukkan bahwa kualitas relasi antar laki-laki dan perempuan bisa mengarah pada persahabatan. Aku pikir tidak mengapa kan?, yah meskipun dalam agama tidak diperkenankan berhubungan terlalu erat dengan lawan jenis yang bukan makhrom istilahnya namun kenyataannya dalam ilmu psikologi ada lohh ikatan persaudaraan antar laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki pertalian biologis. Ehm.. kalian boleh deh berwacana sesuai dengan jalan pikiran kalian namun aku secara pribadi dapat menerima kenyataan bahwa terdapat jenis hubungan yang pure persaudaraan pada laki-laki dan perempuan. I proved that by my self!. 
Namun tak dapat ditampik pula bahwa kadang persahabatan antar jenis mengarah ke jenis hubungan lain yakni genre asmara. Yah kodrati lah apabila lawan jenis saling menyukai, namun aku rasa terdapat sedikit error system saja, atau pada akhirnya nyerah pada apa yang dinamakan takdir, urusan Illahi. Jadi penyebab sebenarnya adalah karena persabatan dan asmara itu sama-sama didasari atas kasih sayang. Namun kasih sayangnya biasanya berbeda jalur. Kasih sayang persahabatan tidak di embel-embeli dengan nafsu, murni ketulusan. Hubungan asmara yang didasari oleh kasih sayang persahabatan kadang lebih langgeng dibandingkan dengan yang asli asmara-asmaraan. Oleh karena itulah banyak mereka yang bersahabat kemudian beralih jalur membawa hubungan mereka kepada ikatan asmara. Tidak ada salahnya sihh, namun berdampak cukup buruk. Banyak kemudian yang tidak percaya akan adanya persahabatan antar jenis, orang awam yang melihat adanya persabatan itu senantiasa mengartikan bahwa status persahabatan hanya embel-embel belaka. Hal ini pulalah yang menyebabkan banyak manusia ragu untuk bersahabat, untuk saling membantu dalam kebaikan. Karena takut dosa, karena takut stigma masyarakat. Sebetulnya akar dari permasalahan ini adalah seberapa bisa dirimu me-manage jiwamu. Dan lagi, apabila kau percaya pada Tuhan, kau tentu percaya pada takdir. Dan persahabatan itu takdir, cinta bisa saja merupakan pilihan, namun tetap takdir yang menentukan. So, Mari bersahabat dan jangan ragu. Serahkan pada takdir Illahi dan bentengi dirimu dengan keimanan dan ketaqwaan :).


Agustus 09, 2012

Sebuah Karya Ilmiah: Enak, Sial!!



PENDAHULUAN: Senja di Surabaya
“Enak, sial!”
Itulah narasi dari drama sore yang aku tonton hari ini. Bukan drama sebenarnya, lebih kepada realitas yang terdustakan. Kenapa harus terdustakan?, karena untuk mengakuinya agak memalukan. Jadi once upon a time, senja di Surabaya merupakan yang terindah dari kota-kota lainnya (kota yang kumaksud adalah peradaban nomadenku; Jember, Banyuwangi, Kediri, Blitar, Sragen, e.t.c). Senja saat itu sangat spesial, karena sebelum senja menapaki riwayatnya di bumi Surabaya, aku yang dalam kondisi mengenaskan mendapat pesan singkat yang isinya paling kusukai dari segala pesan yang telah kuterima. Apalagi kalau tidak tentang uang. 

Jadi hari itu ada rejeki tak terduga yang tiba-tiba mampir. Nah, bertepatan dengan saat itu aku sedang bersua dengan temanku, yang sikapnya lebih memposisikan diriku ini sebagai emaknya dibandingkan dengan temannya. Secara otomatis dia merengek menagih traktiran. Senja di Surabaya kita habiskan dengan menelusuri jalanan macet di tanah Bonek ini.

Hanya berputar ke mall sejenak, karena aku tidak mendapatkan apapun yang kumau  (apa sih yang kumau?, hanya seuntai janji manis yang tak akan ditepati – apa sih?? =.=” ). Setelah itu mendengarkan rengekannya sepanjang jalan membuatku akhirnya menyerah. Kuturuti kemauannya, kemanapun dia akan membawaku. Sampai kita akhirnya nyantol ke sebuah resto fenomenal di depan stasiun gubeng lama (tidak sebut nama karena tidak terikat kontrak dengan perusahaan bersangkutan :D). Eh, rupanya sudah di booking full oleh perusahaan X yang mengadakan buber dengan para pegawai.

Yasudah, kita berlanjut ke mall paling fenomenal di Surabaya untuk menemukan restoran sejenis. Sesampainya di restoran yang berada di lantai 5 tersebut, terkejutlah kita bahwa kita harus ngantri dulu. Sembari ngantri ngacirlah kita ke mushola untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Melihat resto yang full dan antriannya yang panjang, saya sempat heran dengan adanya fenomena kelaparan di luar sana. “Betulkah fenomena itu?, apakah hanya tipuan?. Bagaimana bisa ada fenomena rakyat kelaparan disaat resto mahal itu manusia dan sampek ngantri pula, sungguh paradoks yang menggelikan”.     

Akhirnya kami mendapatkan seat juga setelah menunggu amaaaaaatttt lamaaaa sekali. Dalam masa penantian itu kami berdiskusi, melihat bagaimana cara makan disana. “eh modelnya prasmanan ya?, sepuasnya katanya. Terus gimana totalannya?”. “Dimana nasinya?”. “Gimana cara masaknya?”. “Kenapa dagingnya mentah semua?”. Kita benar-benar terlihat paling ndesooo disitu, padahal aku yaqiiin bahwa tampangku gak ndeso-ndeso amat, tapi tabiat kita yang clinguk’an kayak maling sungguh menampakkan kekatrok’an kita. Aku sadar hal itu, tapi aku bertekad untuk Be My Self, whatever they thought.

ISI: Great Adventure
Saat pramusaji menyiapkan seat kita, iseng-iseng teman saya sebut saja Han Hyo Joo (eh, lak seneng areke disebut gitu), yang bulan ini baru saja berkepala dua, mewawancarai si pramusaji itu. “Mbak, gimana ya caranya agar kita tahu harganya”. “paketan mbak, each adult seharga 125 ribu”. Okeee, aku sudah mendengarnya dan tetap calm down berlagak elegan. Kita sudah makan takjil puding dan es campur yang luar biasa enak rasanya, mau apalagi teruuss???. Begitu si pramusaji pergi, aku berujar pada si Han hyo Joo: “Eh, ada pintu keluar lain gak selain di tempat kasir itu?”. “Sorii Ha Ji Won (aku maksudnya :P), kayaknya gak ada deh” jawabnya lugu. “Kalau pintu ajaib doraemon?”. “Gak ada juga” jawabnya sambil nyengir. “Oke kalau begitu yang bisa kita lakukan sekarang adalah membuat mereka bangkrut, kita rampok resto ini”. HAHAHAHAHA.. akhirnya kita siapkan kostum topeng mata satu kita bak perompak (ngiiikkk..)

Alhasil kita mengambil segala macam dises seperti orang kesurupan. Buanyaaaaaaaaaaak bangett, sampai kita gak tau bagaimana cara menghabiskannya. Cara makannya saja kita gak tau pleaseeee... Kita udah mengambil segala menu yang ada dan di depan kita ada panci mendidih dan tempat panggang. “Terus gimana cara masukinnya ke situ?” tanya Han Hyo Joo kepadaku yang sama tololnya. “Yah ini ada sumpit kan?”. Oke aksi kita mulai lancarrr. Kita menikmati saat-saat itu (atau tepatnya memaksakan diri untuk menikmati karena gimana lagi, ibarat pepatah jawa wes kadong teles yo nylulup pisan :D, translate sendiri yooo??). 

Begitu mencicipinya, sekali gigit komenku untuk yang pertama kali adalah “enak, sial!”. Ucapan itu berkali-kali kita ucapkan sudah kayak yel-yel. Yel-yel ini berkhasiat banget sebagai pelipur lara hati kita yang harus bangkrut begitu melewati pintu keluar itu :P. Karena bagaimanapun juga di lubuk hati kita yang paling dalam nyesek juga menghabiskan jatah makan seminggu dalam semalam, tidak! sejam lebih tepatnya karena kita juga harus keburu pulang. Oleh karena itu timbullah ide katrok nan bego kita. Yaitu menyembunyikan beberapa makanan ke dalam tas untuk dibawa pulang (ngakzzzz!!). 
Jadi kita mengambil beberapa fried ebi yang satu persatunya kita balut dengan tisu dengan cara yang amat hati-hati (selayaknya siswa yang sedang mencontek saat ujian). Si Han Hyo Joo yang beraksi, aku hanya bertugas mengkondusifkan TKP, sungguh duo bandit kita ini. Entah kenapa saat kita beraksi para pramusaji lalu lalang mendatangi tempat kita. Betapa sensasinya membuat kita hampir terserang stroke.

Jadi intinya kita itu ketahuan oleh managernya. Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa itu adalah jalan yang bukan terlalu buruk tapi tetap saja tidak baik. Kita gak mau mengakui bahwa kita nyuri, tentu saja, disanapun tidak ada peringatan bahwa dilarang membawa makanan pulang, namun karena hal itu tidak umum maka kita gengsi untuk secara resmi membawa makanan pulang, jadi ini bisa dikatakan merupakan unofficial ways (bahasa kerennya, tapi tetap saja istilahnya semi-maling :D). Please ya jangan nuduh kita nyuri, kita bayar tunia pleaseee.. dengan angpao lebaran yang terpaksa melayang di senja bolonggggg...

Jadi ditengah aksi itu api panggang kita tiba-tiba menyala sedikit over-reacted dan mengundang banyak pramusaji untuk menangani masalah itu. Aku rasa pramusaji tersebut menangkap basah kita, karena setelah itu kemudian managernya (gak tau deh manager atau apa, dia yang kelihatan paling sok dan berseragam resmi). Si manager mendatangi kita dan bertanya: “Apa ada yang bisa kita bantu?”. Aku menjawab: “We’re fine thank you J”. Yah, dia melihat pada pojok dimana transaksi itu berjalan, aku rasa kita telah tertangkap. Aku berfikir mungkin kita ditegur, dampak paling mengerikan orang-orang disekitar akan tahu aksi kita dan kita bakaaaalll amat malu sekali. Namun aku tahu dia baik, dan dia mengerti sekali bahwa kita adalah mahasiswa miskin yang mencoba untuk hidup di ‘Lala land’ barang sesaat.

KONKLUSI: Hikmahnya adalah...
Meskipun begitu kita pulang dengan hati yang amat puas. Bahkan kita berencana untuk mengulanginya lagi (mampir ke resto itu maksudnya, bukan mengulangi tindakan kriminil itu :D). Dannnnnn... yah demi mengobati rasa penasaran kita selama ini terhada fenomenalitas resto itu, biaya yang kita keluarkan pantas kok. Next kita sepakat untuk mampir ke warung ice cream yang juga fenomenal, ada dinamika apalagi disana?, tunggu saja tanggal mainnya. FIGHTING!!


Juli 30, 2012

a Piece of Reality

Gubuk ini hampir roboh, satu persatu penghuninya telah meninggalkan tempat ini. Namun aku tetap berada di sudut ruangan, mencoba mengobrak-abrik isi otak yang aku sadari tidaklah berisi hal-hal kreatif. Jadi jangan paksa aku untuk menemukan ide brilian, aku hanyalah manusia yang berdiri dengan segenap sense, yang memandang apapun menggunakan sense, persetan dengan segala ide jeniusmu yang kau simpan rapat-rapat namun tak kau gunakan untuk mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Hanya bermodalkan sense, aku yakin sesuatu yang berguna dapat aku lakukan. Karena aku serupa plato dalam segenap indera perasa.

--> Hidup ini tidak selalu harus adil, kemanakah harus mencari keadilan?

Kadang muncul sebuah siluet pada senja hari, dimana memandangi langit diatas genteng tetangga merupakan aktivitas yang sangat meyenangkan bagiku. Kemudian aku mendengar jeritan, salah satu diantara jeritan yang pernah aku dengar selama aku hidup. Jeritan dari seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun yang turun dari motor sambil menggendong adiknya yang berusia 3 tahun, yang telah tak bernyawa. Dia menjerit, jeritannya sanngup memecah belah segala kedustaan mengenai kehidupan ini. Beberapa jam yang lalu ibunya dirundung kegalauan yang akali ini berupa kegalauan seorang ibu yang bingung untuk mencari cara menyelamatkan anaknya yang sudah mulai kesulitan bernafas karena buah rambutan yang tersangkut di tenggorokannya. Akhirnya dengan mengandalkan sense keibuannya beliau memasukkan jarinya untuk menarik rambutan tersebut dari tenggorokan sang anak. Sampai beberapa lama jarinya keluar bersimbah darah, darah yang berasal dari tenggorokan itu. Sang ibu mulai menangis, amat ketakutan, merasa bersalah, tidak berdaya. Sementara itu sang bapak yang sedang berlarian kerumah tetangga untuk mencari pinjaman uang agar bisa membawa sang anak ke rumah sakit pun tidak kunjung kembali. Matahari telah hampir meredup, akhrinya ia kembali. Anak sulung dari keluarga tersebut, seorang bocah laki-laki yang menjadi punggung keluarga, dengan pekerjaan serabutannya sebagai pegawai bengkel montor, sembari mendirikan tambal ban di rumahnya, kuli bangunan, pekerja sawah, pengecat dinding,  dan musuhku karena senantiasa jahil dan selalu mengolokku sebagai 'perawan tua'.   

Dia dan bapaknya berangkat ke rumah sakit terdekat dengan membawa adiknya yang sudah tidak sadarkan diri dipangkuannya. Aku hanya merasa heran, saat tak sampai sejam kemudian aku mendengar jeritan itu. Dia membopong adiknya kedalam rumah sambil kemudian berlutut sambil merintih. Tangisannya membuyarkan semua impian, impian para manusia desa yang ingin menjadikan dunia ini seadil-adilnya bagi rakyat yang terpinggir karena materi. Dia berteriak-teriak bahwa dia tahu adiknya telah mati dalam perjalanan, adiknya merengkuh lenggannya dan mencoba memandangnya dengan mata yang melotot-lotot saat sang malaikat nyawa menghampirinya. Dia tahu adiknya ketakutan, adiknya ingin dia menemaninya, adiknya ingin dia menyelamatkannya. Namun ia tidak sanggup. Aku bisa merasakan sedalam apa penyesalannya, akan sampai berapa lama ia akan mengutuk dirinya. Ini sedalam-dalamnya luka, siapakah penyembuhnya???

Beberapa hari setelah hari naas itu ia secara rutin mengunjungi rumahku, ia memberikan sandal adiknya kepada keponakanku, juga beberapa mainan yang biasanya dimainkan oleh adiknya dan keponakanku. Juga setiap pagi dia datang kembali untuk memberikan uang yang disebutnya 'jatah uang jajan' adiknya. Dia suka memeluk keponakanku seolah sedang memeluk adiknya. Satu atau dua bulan kemudian dia datang agak lama, dia membelikan keponakanku sebuah mainan replika truk yang dikatakannya sebagai salah satu yang paling diinginkan oleh adiknya. Ya, sekaligus dia pamit untuk merantau ke luar negeri sebagai TKI dan bertekad akan membawa sekarung uang agar bisa menuruti segala keinginan adiknya yang belum terwujud. Berkali-kali ia bergumam lirih, "andai aku kaya waktu itu, aku akan sampai rumah sakit lebih awal sehingga adikku dapat diselamatkan". Nobody knows boy, 'cause there's Allah who decides everything...

Juli 19, 2012

Sebuah Harapan (Palsu)


Bismillahirahmanirrahim..

Karya sastra ini saya tulis dengan penuh penghayatan. Apalagi setelah dimulai dengan bismillah ba’da tahmid didalam hati, semoga ini bermanfaat. Tidak, ini tidak seserius itu seolah aku mau menuliskan wasiat sebelum kematian. Aku hanya sedang mencoba mengelupas sisi kehidupanku yang terdalam. Sebagaimana remaja pada umumnya (saya agak malu mengatakan bahwa saya remaja: dalam bahasa inggris teenagers, padahal diri saya sudah tidak berusia ‘teen’ lagi tapi ‘tweenties’ jadi saya mengkonfirmasi dulu sebelum nantinya ada yang menuduh saya telah melakukan penipuan besar – OUCH! ) saya mencoba menemukan jati diri saya; WHO AM I??

Nama saya terdiri dari 14 huruf (nama asli, Boo-SS terus terang palsu: sepalsu diri saya yang sebenarnya :D). Saya perempuan, tentu saja. Meskipun saya akui bahwa kelahiran saya sempat membuat bapak saya frustasi. Beliau amat sangat mendambakan kehadiran anak laki-laki disaat sudah memiliki 3 anak perempuan. Dari sisi inilah saya merasa memiliki kemiripan dengan keluarga Bennet dalam novel favorit saya sepanjang masa yakni Pride and Prejudice. Kekecewaan bapak saya cukup beralasan, beliau menginginkan seorang penerus yang bisa menjadi seniman kenamaan yang meneruskan karir bapak saya yang terhenti akibat penyakit yang dideritanya. Kambing yang telah dibelinya semasa saya berada dalam kandungan, yang diharapkannya akan digembala oleh saya saat saya (yang diharapkan sebagai seorang anak laki-laki yang ganteng, ehem!) lahir, kemudian disembelih dengan dalih syukuran. Padahal itu merupakan perwujudan dari yang namanya desperate. Keluarga saya memang so sweet, kami adalah manusia yang bisa mensiasati kehidupan; akan dengan mudah merubah kekecewaan menjadi rasa syukur sehingga kekalahan menjadi kemenangan yang tertunda. 

Itulah sebenarnya yang mendasari benih-benih feminis dalam diri saya. Memangnya mengapa jika saya tidak terlahir sebagai laki-laki??. Sangat tersengat rasanya saat membaca artikel yang mengutip pernyataan seorang tokoh dunia (entah siapa itu, saya sering lupa dengan nama orang dan tahun) yang menyatakan bahwa Wanita adalah manusia yang gagal menjadi laki-laki. Lalu saya jawab dalam hati (gerundel); Laki-laki adalah manusia yang tidak sanggup menjadi wanita. Bahkan filsuf jaman kuno entah itu Plato atau siapa mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang tidak memiliki jiwa. Lalu apa yang kau lihat selama ini??, zombie???!. Yah sudahlah, Biarkan Mereka Berkembang. Hanya saja, mengapa mereka tidak dapat memahami bahwa wanita adalah wanita dan laki-laki adalah laki-laki, ini yang disebut harmoni, balance, yin-yang e.t.c. Laki-laki bisa disebut laki-laki karena ada jenis lainnya yakni perempuan, begitupun sebaliknya. 

Well, untuk itu kemudian aku membuktikan kepada bapakku bahwasanya meskipun perempuan aku bisa mewujudkan segala cita-citanya yang terhenti. Bapak ingin anak yang pandai melukis, oke aku bisa. Bertahun-tahun aku memaksakan diri untuk menyukai mata pelajaran seni rupa disekolah meskipun menurutku sangat membosankan. Kemudian bapak menyadarkanku bahwasanya aku telah gagal total dalam bidang ini; “kok dari jaman TK sampai mau SMA gambaranmu tetep itu-itu saja. Gunung, sawah, jalan raya dan tiang listrik, memang dunia ini sesempit itu ya?”. (=.=”)

Harapan kedua bapak yakni ingin penerus yang bisa melestarikan kesenian wayang kulit pakem Jawa. Aku menerima usulan bapak untuk mengkarantinakan diriku di sanggar seni milik saudaraku yang khusus melatih generasi-generasi berbudaya. Berbagai posisi telah dicobakan untukku. Sebagai sinden aku sudah divonis tidak cocok karena suaraku tidak feminin, malah saat kucoba bersuara sefeminin mungkin aku malah diolok dengan amat sangat menyakitkan; “kamu kalau ngomong begitu kayak banci habis minum baygon”, Sakiiiittt!!. Begitupun saat mencoba posisi sebagai ‘panjak’ (kru musik dalam pertunjukan wayang) aku kemudian di judge sebagai manusia yang tidak memiliki sense of melody sama sekali, what?, are you **ck*** kidding me??. Harapan terakhir, aku gabung dengan grup penari ‘remong’, beberapa jam saja berlatih aku sudah di komen oleh salah seorang penonton latihan; “mbak punya penyakit tulang, encok atau asam urat begituan ya?, kaku banget gerakannya”. Baiklah aku menyerah, dunia ini serasa tak adil sekali bagiku. (back sound; Dewiq “Dunia sedang tak bersahabat, ingin kubawa hancur bersamaku.. Hoooo”).

Klimaksnya aku pulang menghadap ayahanda dengan wajah yang tertunduk, sama sekali tak punya keberanian untuk menegakkan kepala (gak gitu-gitu amat kalee). Akan tetapi kepulanganku dari summer camp di Asrama seni itu memang sebuah pukulan yang amat keras bagiku, aku telah merasa menjadi orang paling gagal di bumi ini dengan bentuk kegagalan yang paling hina: gagal menjadi anak. T.T

Namun bapakku yang wise kemudian berkata; “gak pa pa nak, bapak tetap bangga kepadamu. Meskipun kau bukan anak laki-laki sehingga tidak dapat mewarisi kegantengan bapakmu ini, ditambah lagi meskipun perempuan kau juga tidak cantik” (back sound: Krieeeekkkk!!!). “Lalu apa yang ananda bisa lakukan untuk menebus dosa tidak cantik dan tidak ganteng ini ayahanda?”. “tidak ada, kau sungguh mematikan seluruh harapan manusia di bumi ini”. “Tapi, apakah ayahanda tidak memiliki harapan lagi?”. “ada sih sebenarnya, elo pengen tau??”. “iya ayahanda, katakan saja. Kali ini akan ananda kabulkan”. “Karena aku ingin anak yang tampan maka sekaligus aku senantiasa mendambakan menantu yang cantik”. Anak dari bapak gila ini langsung speechless kemudian membeku (dilanjutkan dengan kerudungan kresek lalu turun panggung). 

*Cerita ini diilhami oleh kisah nyata, namun agar menarik banyak diselingi dengan dramatisir yang berlebihan. Berharap ada yang tertarik memasangkan iklannya di blog yang diakui oleh pemilik sebagai blog yang useless dan amat sepi pengunjung kecuali mereka yang amat kurang kerjaan bisa sampai membaca pesan terakhir ini. Sekali lagi terima kasih telah meluangkan waktu anda yang berharga untuk membaca kegilaan ini. Efek samping setelah membaca ini (misal langsung muntah atau alergi gatal-gatal) tidak ditanggung oleh penulis maupun blogspot. Wassalamualaikum WR. WB ^.^ CAO!!