Orang memang butuh untuk bermetamorphosa. setiap orang harus menjadi adaptif atas segala keadaan dan tempat. kemampuan itu wajib dimiliki oleh setiap manusia. apabila tidak, maka alam yang akan memaksa.
Metamorphosa yang memaksa. sudah kodrati mungkin ya. bahwa kita dipaksa untuk beradaptasi atas suatu keadaan dimana kita belum siap dalam menghadapinya, dimana kita sudah terlanjur di design santai dan selalu mengandalkan keberuntungan. padahal dalam suatu titik, keberuntungan tidak selalu berpihak. setelah kita ditinggalkan oleh keberuntungan yang selama ini senantiasa menemani kita, maka kita akan tumbang.
Saya punya kepedean yang sangat tinggi bahwa saya secara khusus dicintai oleh Tuhan. itulah yang didoktrinkan oleh orang tua saya sejak kecil. meskipun ketika menginjak remaja saya diuji oleh ujian sekuat serangan tsunami akbar, saya masih meyakini bahsa secara spesial saya yang paling disayangi oleh Tuhan.
Kepercayaan itu terbukti, dengan banyaknya kebaikan yang saya dapat. di jalan saya yang berliku dan terjal, Tuhan mampu menenangkan saya, memberi saya kenyamanan. bahkan ketika harus melewati terowongan kehidupan yang menakutkan sekalipun, mata dan hati saya ditutup, sehingga saya tidak sempat merasa takut. saya terbiasa dicinrai oleh Tuhan. oleh karena itu saya tidak memiliki kekhwatiran barang sebiji pun tentang masa depan saya. Karena Tuhan yang amat meyangangi saya pasti telah menyediakan jalan terindah untuk masa depan saya. dan karena Tuhan mencintai saya, semua orang juga begitu. banyak yang salut, bangga sekaligus terharu dengan perjuangan hidup saya. tapi hal-hal positif itu kini berubah jadi boomerang dalam hidup saya.
Saya telah mencari kerja dan hidup kayak babi selama hampir dua bulan. saya cukup tersinggung dengan status facebook salah satu teman saya yang menyatakan bahwa, sungguh mengenaskan mahasiswa yang hidup dengan moto MTN (mangan, turu, nelek). Saya amat tersinggung karena saya selama dua bulan ini hidup seperti itu. aktivitas yang saya lakukan hanya terbatas di depan layar laptop, browsing lowongan kerja, kirim CV, atau download drama dan nonton drama. bahkan saya pernah tidak keluar kos selama 3 hari full.
Saya amat tertekan. saya berdoa tiap hari. saya berubah menjadi lebih alim dari biasanya karena kemudian saya shalat malam tiap hari, dzikir tiap malam, puasa hampir tiap hari, tilawah lebih dari 1 juz perhari. itu terjadi ketika saya punya harapan yang saya harap akan dikabulkan oleh Tuhan. tapi ketika saya sudah pada kesimpulan bahwa saya harus merelakan harapan itu saya kembali menjadi umat yang biasa-biasa saja. Tuhan pasti membenci saya karena ini.
Saya merasa tertekan dengan ekspektasi keluarga saya, bahkan orang sedesa di kampung saya. betapa keluarga saya suka sekali meggembor-gemborkan prestasi saya disini, saya tertekan. seandainya mereka tahu apa yang saya lakukan selama ini, pasti mereka akan kecewa terlebih keluarga saya. saya benci karena saya harus memikiul beban yang seberat ini. membangkitkan ekonomi keluarga, mengangkat harkat dan martabat keluarga, menjadi orang yang benar-benar baik. I'm not superwoman. Iam just NITA.
Saya seringkali marah, tapi saya tidak pernah menyatakan isi hati saya yang seperti ini kepada keluarga. mereka telah begitu asing bagi saya. semenjak kepergian bapak, saya tidak punya siapa-siapa. saya hanya punya Tuhan dan teman-teman. kenapa teman-teman?. karena saya hidup dari bantuan mereka. bayangkan saja kalau saya tidak punya teman, saya tidak bakal bisa meneruskan hidup ini. dari sini bisa kalian bayangkan berapa banyak hutang materiil dan spirituil saya pada teman-teman saya. saya sudah amat merepotkan jiwa raga mereka. teman mana yang belum saya hutangi selama ini. bahkan banyak diantara mereka yang masih belum saya bayar karena saya sekarang pada kondisi yang masih butuh ngutang. so, mengenaskannya hidup saya pada level ini adalah bahwa saya bergaya hidup MTN tapi saya terus menumpuk hutang. tapi saya masih percaya bahwa Tuhan menyayangi saya dengan amat spesial.
Saya terus terang tidak tahu, jalan hidup mana yang harus saya pilih. tapi atas tuntutan keluarga saya harus bekerja. oke saya akan bekerja. karena untuk studi lanjutpun saya tidak tahu mau studi apa dan dimana. saya masih belum minat untuk meneruskan studi saya, berkaca pada kesengsaraan saya selama S1 saya ingin sedikit lebih merdeka.
Tapi kemerdekaan rupanya berharga mahal. saya sudah melamar ke hampir duapuluh perusahaan. salah satunya saya sudah sampai di tahap akhir seleksi tapi saya harus gugur karena mereka butuh yang berpengalaman bukan fresh graduate. I dunno. perusahaan ini membuat saya berharap luar biasa pada awalnya. karena saya percaya dengan takdir, dan ketika melihat namanya, mengikuti rangkaian test-nya saya percaya bahwa saya ditakdirkan untuk bekerja disini. kepercayaan itu meninggi saat kemudian saya diberitahu bahwa saya diajukan di salah satu cabangnya di kota Semarang. saya amat terkesan, karena saya suka dengan kota itu. hidup di Jawa Tengah saya yakini akan menjadikan saya pribadi yang sopan setelah cukup lama terkontaminasi dengan ke-urak-an Suroboyo.
Semarang pada kahirnya melayang karena sekali kagi saya terlalu melambungkan harapan. padahal saya sudah gembor-gembor ke keluarga, teman, bahkan dosen. sakit hati dan malu sekali. saya tidak sedih, saya tidak menangis. saya hanya lebih sering merindukan bapak ketika malam, dan saya menangis bukan karena saya tidak ketrima kerja, tapi saya merindukan bapak lebih dari biasanya. andai bapak masih ada, berarti saya masih punya keluarga untuk mengadu dan meng-aduh.
Ya, saya cukup tegar secara emosional. tapi tekanan ini rupanya menyerang jaringan lain. emosi yang dipendam akan berbuah demam. lama sekali saya tidak sakit. saya ingat pernah sakit begini ketika saya masih berstatus mahasiswa baru dan saya beradaptasi secara menggila waktu itu. jadi saya sakit karena under pressure oleh keadaan. sekarang masa itu saya alami. saya baru lulus dan saya jatuh sakit. rekor sakit relama saya seumur hidup. 3 hari demam tinggi, 2 hari batuk-flu, 1 hari demam tinggi dan saat ini saya diare. pada tahap ini saya menyadari bahwa secara emosional dan fisik saya sudah K.O. Saya sakit, tidak punya duit, banyak utang, under pressure, dan tidak punya harapan. saya bakal mengenang saat-saat ini seumur hidup saya. betapa indahnya cobaan Tuhan. ia sedang mengajari umat yang amat disayanginya untuk mandiri, untuk bersabar, untuk tegar, dan untuk setia dalam mempercayai dan mengimani kehendak-kehendak baiknya. Tuhan aku tidak pernah bendi padamu atas semua ini, ini mengingatkanku betapa spesialnya aku bagiMu. aku masih bersedia untuk terus diuji sampai menurutMu aku layak mendapatkan keistimewaan-keistimewaan darimu...
Maret 30, 2014
Juni 02, 2013
Sebuah Dongeng:Akhir Hidup Seekor Semut yang Apatis
Seekor semut merah hidup diantara
gerombolan semut hitam, berupaya merubah perilakunya sebagaimana perilaku semut
hitam, akan tetapi ia tidak pernah diterima sebagai mana semut hitam, sebab
bagaimanapun warnanya tidak hitam. Semut merahpun berupaya menemukan koloni
semut merah lainya, ia bertemu dengan sekawanan semut.
Ia berpikir bahwa ia
sudah berada di tempat yang benar, bersama kawan-kawan sebangasanya, akan
tetapi kemudian ia menyadari bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar di terima,
sebab ia sudah terlahir dan besar dengan sendirinya, dijauhkan dari kehidupan
sosial, sehinga bagaiamanapun ia berjiwa anti sosial. Ia kemudian menemukan
dunianya, rupanya di sudut selokan bersama selembar daun kering yang cukup
menghiburnya sebab cukup asyik dibuat bermain terjun payung. semakin lama ia
semakin merasa bahwa ia sama sekali tidak memiliki koloni.
Ia berusaha membuka
pertemanaan dengan semut biru, pink, coklat dan lain sebagainya, akan tetapi ia
selalu akan berhenti pada anggapan bahwa; "aku rupanya tidak pernah
menjadi teman yang menyenangkan bagi mereka, dan mereka sama seklai tidak
pernah mengerti kau, mereka hanya menuduhku, dan aku selalu merepotkan".
Siapapun yang dekat dengan si merah, akan berakhir kecewa, sebab sifatnya yang
penyendiri dan memang hanya bisa dimengerti dirinya sendiri. Ia tidak pernah
berupaya untuk berbaur dan berbagi pikiran dengan kawan semut lainnya. Akan
seperti apa akhir cerita dari si semut merah?. Semut merah tidak akan pernah
mengerti apapun kecuali menyenangkan diri sendiri, ia hanya akan mati apabila
tanah yang digalinya cukup penuh untuk mengubur dirinya, bukan di dalam lubang,
tapi dalam gundukan. Ia akan menghilang tanpa orang lain tahu, ia terperangkap
dalam gundukan tanah tanpa semut lainnya tahu bahwa ia terkubur oleh apa yang ia
sendiri gali dengan sendirinya. end.
April 21, 2013
Becoming Women: What The H*ll is going on to the feminism??
TENTANG KARTINI DAN HARI PERINGATANNYA
Hari ini hari kartini, dan tidak ada kaitannya apakah saya Kartini mania atau bukan, saya hanya merasa perlu merefleksikan diri perempuan saya pada moment yang telah disepakati oleh negara ini sebagai moment tertentu dalam sejarah, yang menyeret kaum wanita dalam catatannya.
Saya juga memiliki pertanyaan yang sama dengan saudara-saudara sekalian mengenai apa makna Hari kartini? mengapa harus Kartini, dan bagaimana harus memaknainya dalam kehidupan saat ini?.Apabila anda berkenan (saya rasa harus berkenan, karena ini blog prribadi saya) saya ingin menyampaikan beberapa pendapat. Hari kartini maknanya adalah, bahwa bangsa Indonesia rupanya tidak semuanya buta akan eksistensi kaum perempuan sebagai kaum yang berdaulat dan merdeka untuk berkiprah sebagaimana yang dilakukan kaum lainnya. Sejak jaman dahulu, dimana kebayakan orang Indonesia, terutama perempuannya waktu itu sibuk memikirkan apakah besok masih ada iubi yang bisa dimakan, seorang kartini sudah memiliki pemikiran mengenai peran perempuan yang selama ini secara kultural 'dengan sengaja' dihilangkan dalam catatan kehidupan manusia.
Tidaklah mengherankan mengapa Kartini, mengapa bukan perempuan lain?, dia kan bangsawan yang tidak perlu repot-repot berfikir mengenai apa yang dimakan besok, segalanya sudah tersedia dalam jumlah yang banyak. Kalau begitu mengapa bukan perempuan lain?, mengapa bukan Dewi Sartika, Cut Meutia, dkk?. Itulah kekuatan nilai dari sebuah wacana, kartini secara kuantitas tidak berperan sebesar nama-nama lain tersebut, karena Kartini tidak menantang penjajah, ia bekerja dalam ketentraman persahabatan dengan orang Belanda, sang penjajah. Hal inilah kemudian yang oleh kaum 'sinistis' (berasal dari kata sinis, suatu kebiasaan yang agak kurang menyenangkan dimana pengidapnya cenderung melabeli suatu hal/ peristiwa atau manusia dengan hal negatif) katakan sebagai bagian dari propaganda kaum Barat. Bangsa ini sudah kebarat-baratan sejak lama, oleh karena itu apa yang disukai oleh barat akan diabadikan olehnya.
Kebetulan memang karya Kartini "habis gelap terbitlah terang" memang dipublikasikan oleh Belanda dimana memang buku ini adalah kumpulan surat yang kartini kirim ke sahabatnya yang orang belanda itu. Maka tidaklah heran apabila orang belandalah yang menerbitkan buku ini. Seandainya saja para pejuang perempuan kala itu juga rajin berbagi pemikiran sebagaimana yang dilakukan kartini, dan seandainya saja orang Indonesia dianugerhi ketelatenan dan kemampuan naluriah untuk pengarsipan, maka jalan Kartini tidak akan semulus itu untuk memperoleh predikat Pahlawan Nasional, sebab banyak mendapat pesaing. Akan tetapi sejarah membuktikan kekuatan sebuah wacana, dimana tinta hitam lebih abadi dibandingkan dengan darah, dimana ujung pensil lebih tajam dari bambu runcing. Maka dari itu salah satu yang dapat kita petik dari momentum hari kartini adalah bahwa kita masih perlu berjuang, bahwa tinta masih sangat ampuh tak termakan masa.
MENJADI PEREMPUAN BEGITU PENTINGNYA??
Seseorang atau sekelompok orang tidak akan memahami mengapa perempuan begitu getol memperjuangan apa yang mereka nilai 'hal yang sudah sewajarnya' sebelum ia mengerti seperti apa menjadi perempuan. Mereka tidak akan mengerti apabila mereka tidak berusaha memahami dan usaha itu nyaris mustahil apabila mereka masih bukan seorang perempuan. Memang kenapa dengan perempuan. Perempuan makhluk sejuta perkara. Dunia ini adalah perkara bagi perempuan, kehidupan ini sejak bagi buta ketika mata dibuka, perempuan melihat perkara. Sudah jam berapa ini?, apakah anak-anaknya sudah bangun?, Bagaimana kalau mereka sampai terlambat sekolah?, Harus memasak apa hari ini?, Apakah uangnya cukup apabila ia harus menuruti appetite seluruh anggota keluarga?, Apakah langit mendung?, Apakah moodnya baik hari ini?, apakah aku siap mengahadapi hari ini?, apakah perutku tidak sakit?, apakah 'tamu'nya datang, oh jangan hari ini aku ada ujian!. Sama sekali bukan hal penting kan dibandingkan dengan permaslahan negara, inflasi, ancaman nuklir, perang, dan lain sebagainya dimana menurut kultur kaum laki-laki yang berwenang untuk memikirkannya. Hingga pada akhirnya segala sesuatu yang dipikirkan perempuan tidak penting, sebab kultur sudah mengklasifikasikan mana yang penting dan mana yang tidak, seolah yang penting bisa bertahan meskipun yang tidak enting tidak diperhatikan. Apa yang dipikirkan oleh perempuan, apabila tidak dipikirkan oleh perempuan, apakah kehidupan ini bisa tetap berjalan?, BISA!. Apakah yang dipikirkan laki-laki, apablila tidak dipikirkan apakah kehidupan masih bisa berjalan?, BISA!. Lalu siapa yang mengada-ada, kamu atau aku? atau kesemuanya dari kita??.
SUATU JAWABAN YANG BERMEREK FEMINISME
Para perempuan menuntut kesetaraan, cuihh mereka mengada-ada, omong kosong. Bukankah segalanya sudah cukup setara adil sekarang ini?. Kesempatan kerja sudah terbuka lebar, kesempatan meraih pendidikan jenis apapun sudah tidak dibatasi, hanya saja permasalahannya terdapat di perempuan sendiriyang belum mau atau belum mampu mengambil kesempatan tersebut. Benar begitu?.
Mereka masih teriak-teriak mengenai pelecehan seksual, kekerasan, tekanan, dan lain sebagainya. Mereka tidak mau berkaca apakah tingkahnya sudah benar sehingga harus mendapatkan segala perlakuan itu. Jiwa mereka lemah, dientak sedikit saja sudah mewek, lalu laki-laki yang salah karena memiliki intonasi suara yang lebih tinggi?, Jangan bercanda!.
Saya sudah tekankan sebelumnya bahwa anda belum akan mampu memahami mengapa perempuan demikian, mengapa begitu banyakhal dituntut, padahal segalanya baik-baik saja. Lalu saya berkata, anda tidak memiliki mata, hati dan telinga perempuan. Perempuan melihat, merasakan dan mendengar apa yang tidak anda lihat, rasakan dan dengar. Ini kodrati, bahwa masing-masing dari kita dianugerahi kelebihan dan kekurangannya. Apabila laki-laki sudah cukup mengeksplorasi kekurangan dan kelebihannya (jati dirinya), lalu sekarang giliran perempuan. Karena dulu belum diberi kesempatan, saat sekarang diberi kesempatan, perempuan dituduh mengada-ada. Oleh karena itu perempuan melakukan pemberontakan, karena perempuan membenci kerusakan, perempuan tidak mengangkat senjata, mereka mengangkat pena dan suara. itulah feminisme, terlepas dari berbagai genrenya.
Mengapa yang perempuan suarakan cenderung tidak terdengar merdu di telinga laki-laki atau perempuan itu sendiri yang terhanyut dalam logikalisasi laki-laki?. Sebab diantara kita memiliki arah logika yang berbeda, sebab dalam berfikir perempuan memiliki perpaduan dengan perasaan dan itu menurut klasifikasi dunia laki-laki aneh dan terkesan tidak logis. Tapi akankah kalian ketahui bahwa yang kalian pikir logis itu terkadang cukup aneh di benak perempuan. Mengapa untuk pembangunan kita perlu bantai membantai dulu?. Itu salah satu contoh ketidak logisan dalam benak perempuan, tapi cukup logis dan wajar sajaj dalam benak laki-laki. Well, kita berbeda sehingga perdebatan mengenai apakah wacana kesetaraan ini masih perlu atau tidak hanya akan berujung pada debat kusir sebab kita memiliki sudut pandang yang mengkusir juga.
Kesetaraan perlu? YA, sebab kehidupan masih belum setara (Nita, 2013). Mengapa disebut belum setara?. sebab masih ada satu pihak yang merasa superior diantara yang lain. dengan itu mereka dengan leluasa melakukan subordinasi terhadap pihak yang lain. Subordinasi, bahasa berat!. Memang apa yang kau ketahui tentang subordinasi?, kau mengalaminya? atau hanya hasil kekaguman terhadap buku-buku feminismu?. Saya mengalaminya, didunia saya yang bebas, merdeka dan mandiri, saya masih merasa ditekan. Apabila saya bukan perempuan, saya yakin saya tidak akan mengalami hal-hal semacam ini. Bahkan beberapa teman menilai saya 'tidak cukup' perempuan. Akan tetapi tampilan dan keperempuanan saya bagaimanapun tidak memunafikan identitas saya sebagai perempuan. Lalu apa yang terjadi. Saya berfikir bahwa perempuan manapun pasti memiliki riwayat yang tak terlupakan berkaitan dengan identitas keperempuanannya. Menyadari atau tidak, semua perempuan pasti mengalami 'pelecehan'.
Mengapa dilecehkan?, karena mereka merasa lebih superior dibandingkan dengan kita. Pelecehan bentuk apa itu. Saya baru menyadari bahwa terdapat juga yang namanya tekanan psikologis yang dihasilkan atas tindak pelecehan yang menyakiti tidak hanya fisik tapi psikologis. Apabila diteliti secara medis, tidak akan terlihat dampaknya, tapi karena perempuan memiliki sisi psikologis yang khas, dalam dan amat rumit, suatu tindakan pelecehan tidak langsung bisa berdampak fatal dalam kehidupan perempuan. Beban psikologis akan mempengaruhi fisik dan tidak dipungkiri bahwa manusia bisa mati karena tekanan psikologis.
Saya baru menyadari akan urgensi wacana kesetaraan setelah saya mengalami insiden yang sangat membuat saya kehabisan akal. Suatu insiden yang untuk keluar dari mulut saya saja susah untuk diucapkan sebab berkaitan dengan apa yang dikatakan budaya sebagai 'taboo'. Oleh karena itu beban psikologisnya semakin menjadi dan kemudian berkembang dalam pikiran saya bahwa hal seperti ini tidak bisa jika hanya didiamkan saja. Saya bisa merangkum kejadian itu dalam bahasa kiasan, dan suatu saat nanti apabila saya cukup mempunyai power untuk itu saya akan menceritakannya. Jadi kejadian itu adalah saat dimana seorang oknum melakukan tindakan yang secara psikologis menekan saya. Sebab saya merasa dilecehkan dengan tindakan itu, sehingga memakan cukup banyak waktu untuk berfikir mengapa hal demikian terjadi, mengapa ia melakukannya?. Saya kembalikan pada diri saya sendiri, apakah saya pantas mendapat perlakuan seperti itu?, tidak, sebab saya sedang dalam sikap dan penampilan yang amat baik. Lalu mengapa ia melakukannya?, apakah kamu sanggup melakukan hal itu?, menurutku tidak, Dan tidak akan da perempuan yang sanggup melakukan itu terlepas ia waras atau sinting. Lalu mengapa orang itu demikian, sebab ia merasa ia dapat melakukannya sebab ia lebih superior, dan tindakannya merupakan cermin kesuperiorotasan. Tidak ada hal lain yang dibanggakan kaum laki-laki keculai superioritas, jarang sekali diantara mereka ada yang bangga apabila mereka dinilai cinta damai dam lembut. Mereka akan amat bangga apabila disebut tangguh dan perusak.
Lebih jauh lagi saya berpikir mengapa ini terjadi? sebab kesetaraan belum benar-benar terwujud. sebab masih ada yang merasa lebih superior dibandingkan dengan yang lain, sebab masih ada pihak yang cenderung melakukan penekanan terhadap pihak lain. Bagaimana agar hal-hal demikian tidak terjadi?. Maka kesetaraan harus mulai dibangun. Dekonstruksi budaya memang mustahil terjadi apabila tidak pernah dicoba. Sedikit demi sedikit pasti akan bisa dirubah. Ingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali Tuhan dan perubahan, mengapa dekonstruksi budaya mustahil terjadi?. Upaya ini memang berat, belum lagi tamparan dan bantahan dan hujatan yang akan diterima sebab dinilai mempersulit hal yang mudah. Akan tetapi tidakkah kalian semua menyadari bahwa permasalahan ini adalah permasalahan umat manusia, yang ini juga memberi dampak yang luar biasa besarnya bagi perkembangan peradaban kedepannya?.
.............................................
-TBC-
Langganan:
Postingan (Atom)
